ISLAM ANTARA KAPITALISME DAN SOSIALISME
Oleh : Moh Ikmal*
- 1. Lonceng kematian kapitalisme
Kapitalisme sebagai sebuah ideologi, ia lahir dari akidah sekularisme yaitu pemisahan agama dari kehidupan umum. Namun dalam hal ini bukan tidak mengakui peran agama melainkan menempatkan agama hanya pada urusan individu masyarakat sehingga yang terlihat agama tidak lain hanya aktifitas ritual semisal di greja, di masjid dan sebagainya. Akidah ini sebenarnya tidak muncul dengan sendiri melainkan ia melalui proses perdebatan yang panjang dimana lahirnya ideology ini bermula ketika kaisar dan raja-raja di eropa dan rusia menjadikan agama sebagai alat untuk memeras, menganiaya dan menindas rakyat. Fenomena inilah yang kemudian banyak menimbulkan stabilitas politik waktu memanas dan berujung dengan di adakannya perundingan antara kaum cendekiawan dan filosof untuk membahas peran agama yang cenderung menjadi alat kepentingan penguasa saat itu. Kiranya apa istilah bahwa agama adalah candu adalah awal lahirnya kritik sosial atas atas dominasi agama dalam kehidupan politik.
Perdebatan tersebut pada perkembangannya memunculkan dua kelompok antara menolak peran agama secara mutlak dan kelompok yang mengakui peran agama tapi sebatas peran tersebut hanya dalam kehidupan individu. Perdebatan tersebut sampai pada keputusan mayoritas cendekiawan dan kaum filosof atas ide pemisahan agama dari kehidupan public. Keputusan ini tiada lain adalah merupakan upaya kompromisasi antara dua kelompok atas realitas sosial politik akibat dominasi agama dalam kehidupan politik ( taqiyuddin an-anbhani, 2003 : 40).
Sebagai sebuah akidah, taqiyuddin an-nabhani dalam kitab nidzamul islam menjelaskan bahwa akidah adalah merupakan pemikiran yang menyeluruh tentang kehidupan dunia, kehidupan sebelum dunia dan sesudahnya dan hubungan antara dunia dan kehidupan sesudahnya. Dari sinilah kemudian lahir berbagai sistem kehidupan yang mencakup pemecahan problematika manusia dalam berbagai bidang kehidupan baik kehidupan individu maupun kehidupan public (negara). Dari akidah ini pula lahir satu metode untuk memecahkan persoalan tadi, memelihara dan menyebarkan ideologi tadi (arief B. iskandar, 2009 : 98). Oleh karenanya maka kapitalisme yang memang lahir akidah sekularisme secara otomatis memiliki konsep dan metode dalam memecahkan setiap persoalan umat manusia dengan tetap sejalan dengan akidah yang di anutnya dimana peran agama hanya ditempatkan pada urusan individu sehingga akan Nampak jika pengaturan ekonomi, politik, sosial budaya, hukum dan pendidikan menjadi hak manusia untuk mengaturnya dan tidak ada urusannya dengan tuhan, sebab tuhan hanya mengatur urusan ritual semata. Kaidah seperti inilah yang pada akhirnya membentuk pribadi yang pragmatis dengan pertimbangan aspek manfaat (untung dan rugi). Artinya jika ada keuntungan maka segera mungkin akan mereka lakukan namun jika sebaliknya maka mereka akan meninggalkannya. oleh karenanya wajar jika akidah ini melahirkan konsep liberalisme (kebebasan) sebagai metode dalam menggapai tujuan hidup mereka, sungguh kehidupan mereka menjadi liar tanpa nilai dan aturan-aturan.
Kehidupan barat yang bebas nilai telah mengantarkan kepada kerusakan moral yang hebat dimana pergaulan bebas, praktek aborsi dan berbagai ketimpangan sosial yang lain telah mengantarkan mereka kepada kehidupan abad kegelapan. Laporan survey CDC desember 2002 menyebutkan bahwa penyebaran virus HIV/AIDS secara cepat meluas di amerika sebagai akibat perilaku seks bebas dan menyimpang. Pada april lalu BKKBN online malansir hasil temuan remaja di 5 kota besar Indonesia yang cukup mengejutkan dimana jawa barat diwakili kota tasikmalaya dan Cirebon menunjukkan 17% remaja tasik mengaku pernah melakukan seks pra nikah, dan 6,7% remaja Cirebon mengaku penganut seks bebas. Di bandung temuan BKKBN menyebutkan sekitar 21-30% remaja melakukan seks pra nikah, menyamai DKI Jakarta dan Jogjakarta. Fakta kerusakan diatas terjadi akibat dari sekularisme pada masyarakat terutama juga merasuki tubuh umat islam saat ini.
Oleh karena itu maka ideology kapitalisme jelas memiliki kelemahan dimana ia sebagai sistem kehidupan tidak mampu mengatasi persoalan yang muncul. Kesalahan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :
- Bahwa akidah yang lahir kapitalisme pada dasarnya tidak sesuai dengan fitrah manusia sebagai makhluk tuhan yang memiliki kelemahan sehingga naluri beragama inilah yang menjadi kebutuhan manusia bagaimanapun keadaanya. walaupun pemenuhan naluri tersebut tidak tersalurkan namun tidak akan menyebabkan kematian. Akan tetapi harus dipahami bahwa kelemahan dan kekurangan manusia mengharuskan adanya kebutuhan kepada zat yang maha. Oleh karenanya maka pemisahan agama dari wilayah public jelas adalah bentuk pengingkaran atas kelemahan manusia yang menganggap manusia mampu mengatur urusan public sementara di sisi lain adalah mengingkari kemahakuasaan tuhan tanpa batas ruang dan waktu. Oleh karenanya wajar jika konsep ekonomi kapitalis adalah bentuk ketidak konsistenan akibat serangan sosialisme dengan banyaknya konsep ekonomi yang selalu berkembang mengikuti perubahan zaman. Adanya perkembangan madzhab ekonomi semisal konsep ekonomi Keynes, neo Keynesian dan neo klasik adalah membuktikan kelemahan konsep ekonomi tersebut untuk bertahan. Krisis ekonomi global yang telah berulang kali terjadi dan terakhir berupa macetnya kredit rumah di amerika serta bangkutnya lehman brothers sebagai salah satu perusahaan investasi AS terbesar akhirnya dinyatakan bangkrut, padahal majalah business week menyatakan bahwa perusahaan tersebut merupakan salah satu dari 50 perusahaan papan atas pada tahun 2008. (Al-wa’ie, majalah politik dan dakwah, November 2008).
- Asas sekularisme yang dibangun dalam ideology tersebut sesungguhnya dibangun tidak berdasarkan pertimbangan rasional melainkan dibangun berdasarkan perinsip kompromi untuk mendamaikan konflik antara pihak greja dengan kelompok intelektual.
- 2. Sosialisme dan komunisme
Komunis merupakan ideologi materialis yang berdiri atas dasar pengingkaran terhadap adanya sesuatu selain materi. Komunis menganggap bahwa materi adalah azali (kekal), yakni tidak berawal dan tidak berakhir. Materi tidak diciptakan oleh Pencipta. Berdasarkan anggapan ini, komunis tidak mengakui adanya Pencipta, dan mengingkari hari Kiamat. Mereka menganggap agama adalah candu bagi masyarakat.
Komunis adalah ideologi materialis yang mendasarkan kepada teori dialektika materialis dan teori historis materialis. Materi adalah sumber segala sesuatu. Segala sesuatu asalnya dari materi, lahir dan berkembang dengan cara evolusi. Perubahan dari satu bentuk ke bentuk yang lain adalah merupakan proses perubahan materi. Sistem (aturan) komunis muncul dari perkembangan alat-alat produksi. Perubahan alat-alat produksi menimbulkan perubahan terhadap aturan yang ada. Oleh karenanya mereka menciptakan agama baru dengan menyembah dan mengagung-agungkan materi. Menurut komunis, masyarakat adalah sekumpulan benda yang terdiri dari tanah, alat-alat produksi, alam dan manusia. Semuanya merupakan satu kesatuan yang dinamakan materi. Apabila terdapat perubahan secara evolutif terhadap alam dan apa yang ada di dalamnya, maka manusiapun dengan sendirinya turut berkembang dan berevolusi, yang pada akhirnya masyarakatpun turut berubah secara keseluruhan. Inilah yang kemudian mereka sebut dengan teori perubahan sosial dan menciptakan konflik antar pihak yang satu dengan pihak yang lain.
Menurut konsep komunis, masyarakat tunduk pada evolusi materi. Kalau masyarakat berkembang, maka individu turut berkembang. Individu mengikuti perkembangan masyarakat seperti layaknya perputaran gigi roda. Komunis melarang pemilikan individu terhadap alat-alat produksi. Semuanya adalah milik negara.
Berdasarkan kenyataan tersebut, maka ideologi komunis adalah ideologi kufur. Begitu pula dengan ide dan aturan-aturannya, juga kufur dan bertentangan dengan Islam secara keseluruhan dan mendasar, baik secara global maupun rinciannya. Beberapa kelemahan dpat diuraikan sebagai berikut :
- Bahwa akidah sosialisme tidak dibangun berdasarkan akal sebab namun sebaliknya berdasarkan materi yang menurut mereka adalah azali (kekal). Inilah kelemahan mendasar pandangan mereka tentang materi, padahal jelas materi pasti membutuhkan sesuatu yang lain dan tidak terbatas. Sementera mereka menganggap materi sebagai sumber kehidupan yang justru materi sendiri tidak melahirkan dirinya sendiri. Contoh matahari ketika terbit dari timur ke barat dan terus menerus secara konsisten tentu memerlukan garis orbit sebagai sistem pengaturan garis edar matahari. Inilah yang memuncul pertanyaan benarkah matahari yang berputar mengkuti garis orbitnya tanpa ada yang mengaturnya ? tentu mustahil. Dan apakah matahari dengan sendirinya tidak memerlukan garis orbitnya ? tentu juga mustahil. Dengan demikian maka jelaslah bahwa mereka telah gagal dalam menjelaskan konsep materi yang bersifat azali tersebut.
- Materialisme dialektis sebagai bentuk teori evolusi sosial adalah berasal dari hegel yang kemudian dikembangkan oleh karl marx dengan teori perubahan dimana perubahan bentuk dari materi yang satu kepada bentuk materi lain (materialisme dialektis) dari satu kesatuan eksistensi yang didalamnya terdiri dari tesis, antitesis dan sintesis adalah jelas tidak berdasar sama sekali. Mereka misalnya mengatakan bahwa kulit yang mengelupas dan proses terbentuknya kulit baru adalah wujud pertarungan sitoplasma (materi) dengan protoplasma (materi lain) sehingga terbentuk kulit baru dengan matinya sel yang ada didalamnya. Kesimpulan akan teori ini jelas terlalu menyederhanakan masalah dan tidak dibangun di atas kerangka yang rasional karena terbentuknya kulit baru tidak hanya faktor protoplasma dan sitoplasma dalam struktue sel saja melainkan ada faktor lain semisal faktor cuaca, kekurangan zat tertentu dalam tubuh manusia atau pengaruh eksternal manusia yang semua itu jelas menunjukkan bahwa perubahan materi mustahi terjadi secara otomatis karena adanya tesis, antitesis dan sintesis dalam kesatuan eksistensi.
Fakta diatas jelas bertentangan dengan islam karena Islam telah menjelaskan dan memastikan bahwa materi itu diciptakan Allah. Materi tidak kekal, dan pasti akan binasa (rusak). Sedangkan manusia adalah makhluk bagi Sang Pencipta. Peraturan berasal dari Allah, bukan dari atau akibat perkembangan materi dan alat-alat produksi, begitu juga bukan berasal dari manusia. Sedangkan masyarakat merupakan kumpulan manusia yang memiliki pemikiran dan perasaan serta diterapkan peraturan di dalamnya. Yang menentukan bentuk masyarakat adalah peraturan yang diterapkan di tengah-tengah masyarakat. Masyarakat yang menerapkan sistem Islam dinamakan masyarakat Islam tanpa memperhatikan bentuk perkembangan alat-alat produksi di dalam masyarakat tersebut. Masyarakat yang menerapkan sistem kapitalis dinamakan masyarakat kapitalis. Begitu juga, masyarakat yang menerapkan peraturan komunis dinamakan masyarakat komunis, sekalipun alat-alat produksi yang ada persis sama seperti alat-alat produksi yang terdapat dalam (masyarakat) sistem kapitalis
- 3. Islam sebagai sunrise generation
Islam sangatlah berbeda dengan ideology lainnya. Ia lahir dari akidah Islam yaitu iman kepada Allah, malaikat-Nya, Kitab-kitab Allah, Rasul-rasul-Nya, hari Kiamat dan iman terhadap qadla-qadar baik atau buruknya datang dari Allah Swt. Iman adalah tashdiq al-jazim (membenarkan sesuatu dengan pasti) yang sesuai dengan kenyataan, serta berdasarkan bukti dan dalil. Apabila pembenaran ini tidak berdasarkan dalil, maka ia tidak dapat disebut sebagai iman. Sebab, di dalamnya tidak terdapat unsur kepastian. Begitu pula pembenaran tidak akan mencapai tingkat pasti kecuali jika ia ditetapkan dengan dalil yang qath’iy (pasti). Oleh karena itu dalil-dalil akidah harus bersifat qath’iy dan tidak boleh bersifat dzanni (tidak pasti/dugaan).
Akidah Islam adalah asas bagi Islam, asas bagai pandangan hidup, asas bagi negara, konstitusi dan perundang-undangan, serta asas bagi segala sesuatu yang lahir dan dibangun dari atau di atas akidah, baik itu berupa pemikiran, hukum maupun persepsi Islam. Akidah Islam juga menjadi qiyadah fikriyah (kepemimpinan ideologis), qa’idah fikriyah (landasan pemikiran), sebagai aqidah siyasiyah (akidah yang bersifat politis). Sebab, ide-ide, hukum-hukum, pendapat-pendapat, dan persepsi-persepsi yang lahir atau tumbuh di atas akidah terkait dengan urusan-urusan dunia dan tata cara pengaturannya, seperti halnya juga terkait dengan urusan akhirat.
Akidah Islam juga menjadi asas yang mengatur seluruh urusan dunia. Di dalamnya terdapat hukum-hukum tentang jual-beli, sewa menyewa, perwakilan, jaminan (garansi), pemilikan, pernikahan, syirkah, warisan dan lain-lain. Di dalamnya juga terdapat hukum-hukum yang berkaitan dengan penjelasan tatacara pelaksanaan hukum yang mengatur urusan-urusan dunia, seperti hukum wajib adanya amir bagi sebuah jama’ah, termasuk hukum dan tatacara pengangkatan amir, melakukan koreksi/kritik dan taat kepadanya. Sama halnya dengan hukum-hukum jihad, perdamaian, gencatan senjata, atau seperti hukum tentang ‘uqubat (sanksi) dan lain-lain. Dengan demikian akidah Islam adalah akidah yang mengatur segala urusan hingga bisa disebut sebagai aqidah siyasiyah (akidah yang bersifat politik). Karena, arti dari politik (siyasah) adalah pengaturan dan pemeliharaan seluruh urusan umat.
Akidah Islam juga merupakan akidah yang tidak dapat dipisahkan dari perjuangan dan peperangan, baik dalam mengemban dakwahnya, mempertahankannya maupun dalam menegakkan negara -yang berlandaskan pada akidah tersebut-, yang akan melindungi akidah dan tetap berdiri di atas akidah Islam serta berusaha melaksanakan hukum-hukumnya. Juga dalam melakukan koreksi terhadap penguasa apabila mereka mengabaikan pelaksanaan hukum-hukum Islam dan melalaikan penyebarluasan risalah Islam ke seluruh dunia.
Akidah Islam menuntut pengesaan hanya terhadap Allah, melalui ibadah dan ketundukan serta pengakuan bahwa hanya Allahlah pembuat peraturan (tasyri’). Menolak segala bentuk ubudiyah (penyembahan) kepada selain Allah dari kalangan makhluk-makhluk-Nya, baik berupa patung, hukum thaghut (peraturan dan undang-undang yang tidak berasal dari Allah), atau mengikuti hawa nafsu dan syahwat semata.
Allah Swt adalah satu-satunya Khaliq (Pencipta) yang berhak diibadahi. Dialah Sang Penguasa, Maha Pengatur, Pembuat Hukum, Sang Penunjuk, Pemberi Rizki, Yang Menghidupkan dan Mematikan, serta Maha Penolong. Seluruh kekuasaan berada di tangan-Nya. Ia berkuasa atas segala sesuatu, tidak bersekutu dengan siapapun dari ciptaan-Nya.
Akidah Islam juga menuntut hanya Rasul Muhammad saw sebagai satu-satunya panutan di antara semua makhluk yang ada. Tidak boleh mengikuti selain Rasulullah Muhammad, dan tidak diterima selain dari beliau. Beliaulah yang telah menyampaikan syari’at Rabbnya. Tidak diperkenankan mengambil syari’at selain dari beliau (siapapun orangnya), atau dari agama dan ideologi selain Islam, atau dari para pakar hukum. Seorang muslim wajib mengikuti dan mengambil hukum hanya dari Rasul saw berdasarkan firman Allah Swt yang artinya :
Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah ia, dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. (QS al-Hasyr [59]: 7)
Sementara di ayat lain allah swt juga menegaskan :
(Dan) Tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu ketetapan (hukum) akan ada pilihan (hukum lain) tentang urusan mereka. (QS al-Ahzab : 36)
Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan. (QS an-Nisa : 65)
Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya (Rasul) takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (QS an-Nur : 63)
Akidah Islam juga menuntut kewajiban menerapkan Islam secara sempurna dan totalitas. Diharamkan menjalankan (hukum Islam) sebagian dan meninggalkan sebagian lainnya, atau menerapkannya secara bertahap. Kaum Muslim diperintahkan untuk menerapkan semua yang telah diturunkan Allah kepada Rasul-Nya setelah turun firman-Nya:
Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan nikmatKu kepadamu dan telah Kuridhai Islam menjadi agamamu. (QS al-Maidah : 3)
Dari pandangan tersebut jelas bahwa akidah islam berbeda dengan akidah sosialisme komunis maupun akidah kapitalisme. Akidah komunis yang menganggap materi adalah sumber kehidupan dan bersifat azali jelas bertentangan dengan islam karena konsep azali menunjukkan bahwa ia tidak memerlukan sesuatu yang lain (berdiri sendiri) dan tidak memiliki keterbatasan sementara islam memandang allah sebagai zat yang azali jelas sesuai dengan realitas bahwa jika ada tuhan selain dia maka pasti dunia ini akan hancur karena jika islam mengenai konsep polytheisme maka berarti tuhan memiliki keterbatasan dan kelemahan masing-masing sehingga akan timbul permasalahan baru tentang keberadaan tuhan sebagai zat yang maha kuasa dan wajib disembah yang justru ia tidak ada bedanya dengan makhluknya sendiri yang juga memiliki kelemahan, maka siapakah tuhan sebenarnya ? tentu hanya dia yang satu (allah swt) tuhan semesta alam dan tiada tuhan selainnya. Oleh karenanya akidah islam jelas menuntut keyakinan bahwa hanya allah sebagai al-khaliq alam semesta dan seisinya yang juga menyediakan seperangkat aturan bagaimana mengatur kehidupan ini. Konsep penciptaan manusia sebagai khalifah fil ardhi tiada lain merupakan konsekuensi tentang amanah bagi makhluknya untuk mengatur kehidupan beradasarkan perintahnya. Allah menegaskan dalam QS. Al-maidah : 48 bahwa untuk masing umat diantara manusia, allah telah menetapkan syariatnya sendiri-sendiri. Oleh karenanya islam sebagai agama paripurna (QS. Al-maidah : 3, 48, dan QS.an-nahl : 89) jelas menunjukkan kesempurnaan alqur’an yang mengatur semua aspek kehidupan dan membenarkan terhadap kitab-kitab sebelumnya.
Oleh karenanya wujud penyembahan kepada allah SWT harus di tunjukkan secara totalitas (kaffah) bahwa islam mengatur hubungan manusia dengan tuhannya, dengan dirinya sendiri dan hubungan manusia dengan sesamanya. karenanya inilah konsekuensi keimanan yang sesungguhnya. Allah berfirman :
“Apakah kamu beriman kepada sebagian isi al-kitab (taurat) dan ingkar kepada sebagian yang lain ?”. Wallahu a’lam bissawab
* Penulis adalah mahasiswa semester 5 pendidikan kewarganegaraan dan hukum fakultas ilmu sosial dan ekonomi universitas negeri Yogyakarta.
Daftar pustaka :
Abdurrahman, Hafidz. 2007. Diskursus Islam politik dan spiritual. Bogor : al-azhar press
An-nabhani, Taqiyuddin, 2003. Peraturan hidup dalam islam. Bogor : pustaka thariqul izzah
Abdullah, Muhammad Husain. 2007. Studi dasar-dasar pemikiran islam. Bogor : pustaka thariqul izzah Iskandar, Arief B. 2009. Materi dasar islam ; islam mulai akar hingga daunnya. Bogor : al-azhar press